17 August 2006

Seorang Perempuan Suatu Ketika


Aku melihat kesuraman seorang perempuan pada tengah malam buta. Airmata bagai hujan yang menderas. Bintang dan kegelapan malam menjadi saksi yang membeku. Ia adalah seorang yang menyesali diri. Dan entah bagaimana, ia mampu mengubah kesedihan menjadi kelegaan. Aku adalah seorang pendengar yang baik. Selalu. Penyesalan ialah sia-sia, karena waktu tak mampu berbalik arah. Dan maafkanlah aku, mungkin juga salahku yang terlalu terbuka.

Untuk sementara aku dihempas bimbang. Ada hal-hal yang sering tak bisa kupahami. Kenangan itu apa? Mengapa ia selalu saja menjelma belenggu yang memenjarakan. Lalu aku harus bagaimana lagi? Jika tak ada seorang pun yang mampu. Moga suatu saat seseorang akan mengerti, bahwa terlalu bodoh baginya untuk terus larut dalam persoalan remeh semacam itu. Sesuatu yang telah kita jalani harus mengalah untuk tertinggal dan berlalu, sebab hidup masih panjang membentang.

Bandung, 220506.

Kita Pernah Berbagi Hujan


I
Kita pernah berbagi hujan pada suatu malam. Selepas mendengar bait-bait puisi yang disuarakan dengan lantang. Kau terlalu memaksakan kehendak waktu itu. Seakan merasa diri lebih mampu menantang badai sekalipun. Dan aku harus bersetia melindungimu dari cercaan cuaca, juga tikaman dingin. Kita lalu bercakap-cakap tentang kecemasan. Sisa-sisa tawa berderai untuk selanjutnya tersaingi muram dan kegalauan. Dan akhirnya aku tahu, kau bukanlah seorang perempuan yang senantiasa mengangguk. Karena setiap kata-kataku dimentahkan keegoisan yang merasa diri lebih dari siapa pun. Aku menunduk di antara angan yang basah. Perjalanan kita dipenuhi tatap mata yang sendu dan senyuman-senyuman yang tak pernah mampu kutelusuri maknanya. Aku kembali harus mengalah. Pulang dengan sisa-sisa kelemahan seorang laki-laki yang pemurung. Namun, kata dan doa yang kau sematkan terakhir kali telah membuatku kembali tersentuh oleh kepasrahan, untuk kembali bersimpuh dalam tatap matamu yang purnama.

II
Aku harus kembali berani bertaruh. Mencoba memahami sesosok perempuan untuk yang kesekian kali. Seseorang yang selalu terbangun pada sepertiga malam yang usai. perempuan yang selalu mengulum diam dan senyuman, juga keteduhan yang muram. Tapi akhirnya aku mengerti, ia menyimpan sejenis kepura-puraan yang akut. Berselimut sikap dan setumpuk pertanyaan yang tak pernah mampu kuterjemahkan seketika. Serupa labirin teka-teki.

Kini, aku menjelma sesosok pemain di atas panggung, bersiap dengan peran dan naskah tak berwujud. Ah, aku memang seorang laki-laki yang pandai menerka setiap peristiwa.
Bandung, 050305

Aku dan Kita

Sebentang perjalanan sulit telah aku tuntaskan, mengajariku hal-hal asing tentang kebersamaan, tantangan, keputusan, juga pengabdian. Sungguh, aku lelah dalam sisa-sisa ketidakberdayaanku. Hari-hari semakin larut di antara bayang kecemasan masa depan. Aku kian terdesak. Penantian ini tak juga kunjung terselesaikan. Berapa lama lagi aku harus menungggu?

Sempat kutinggal, entah untuk berapa lama. Tak sanggup lagi menghitung waktu yang berlalu. Musim berganti, namun selalu ada yang tetap tinggal. Sebagaimana juga selalu ada yang pergi dan datang. Mungkin aku tak lagi mesti belajar memilih atau dipilih. Seseorang mesti berpasrah pada kenyataan. Ada hal-hal yang tak bisa kudapatkan darinya. Sebagaimana ada hal-hal yang tak bisa ia dapatkan dariku. Segala sesuatu akan tiba pada tempatnya masing-masing. Walau begitu, aku ingin segalanya tak mesti berbalik arah. Selalu ada proses dan fase untuk berubah. Kuingin segalanya mengalir serupa hujan. Sementara masih banyak kewajiban yang mesti kupenuhi. Dan kemarau belum juga reda. Bayang-bayangnya masih banyak tertinggal di jendela.

Tak ada lagi kata kepastian di mana pun. Hidup selalu bergelut dengan kemungkinan yang tak terduga. Bahkan, kadang penuh puing-puing menyesakkan. Sebelumnya, telah kita tuntaskan kegalauan ini. Sebab riuh angin telah lama mengirimkan duri-duri kekhawatiran di dadaku. Kita kikis habis sudah segala pertanyaan yang mengendap. Belajarlah bersikap dan jujur pada kehendak. Bukankah aku telah cukup mengajarimu berbagai macam kejujuran? Ah, sepertinya tidak! Kita adalah orang-orang yang berbeda. Selalu saja memperdebatkan rasa yang selalu terlalu sulit ditafsirkan.

Bandung, 070605

Pulang


I
Mungkin aku mesti memetakan kembali rencana-rencana, juga berbagai kemungkinan yang ada. Telah banyak kuhabiskan segala yang kupunyai. Lagi pula keduniawian ini untuk apa? Bayang yang ingin kugapai semakin mengabur. Telah lama aku terbenam dalam kekhawatiran ini. Berbaur bersama keterasingan rasa. Selamat malam, Kabut. Segalanya menguap dalam alunan semu. Ada sembilu yang menusuk. Namun, tak lama lagi aku akan pergi. Menuju gelombang kenangan dan riuh masa lalu. Tunggulah, Malam. Aku akan pulang.

II
Tentu tak setiap orang punya tempat di mana ia bisa kembali pulang. Maka bersyukurlah siapapun yang bisa merasakan makna kepulangan. Mengunjungi masa kecil yang tertinggal, tempat di mana kita belajar untuk meraba hidup dengan segala keluguannya. Maka di sinilah aku untuk kembali pulang. Mengunjungi orang-orang yang telah banyak mengajariku tentang hidup, juga dunia. Ada kebersamaan yang mengharukan, juga keterasingan suasana. Ah, mungkin sudah waktunya bagiku untuk kembali belajar mengenal.

III
Tak bisa kuingkari, ada banyak ingatan yang tercecer di sini, di setiap tempat-tempat tak bernama, di setiap tumpukan benda-benda, di setiap wajah-wajah, juga di setiap bayang-bayang peristiwa. Kadang aku menemui salah satunya, tapi juga kadang kehilangan yang lainnya. Aku harus belajar untuk terus bersengketa dengan keinginan yang tak bisa kunjung kumengerti. Namun, siapakah aku, sementara kepulangan juga berarti jerat pengabdian. Aku sering merasa harus kembali menjelma kanak-kanak di sini.


Bandung, 10-230605

Hilang

Aku kehilangan sesuatu. Tak cukup waktu untuk mencari. Karena tahu, tak akan kutemukan di mana pun. Kemanakah sesuatu itu pergi? Bahkan sang angin pun tak sanggup mengirimkan kabarnya padaku. Entah, akhir-akhir ini aku semakin merasa kehilangan. Sungguh, pencarian yang sia-sia.

Namun aku telah menduga, prasangka yang menjebakku pada sebuah kenyataan yang menyesakkan. Inilah waktu di mana aku harus menenangkan diri sendiri. Tapi hidup masih terus bergulir. Dan aku telah memamah banyak peristiwa, juga kata-kata. Menyadari bahwa hidup hanya sebuah kesementaraan. Tak ada yang sepenuh hati abadi. Kita selalu tiba pada saat di mana ada orang-orang yang saling membutuhkan untuk peduli. Hanya dalam suatu kurun waktu tertentu. Selebihnya tidak lagi. Tak ada yang kekal milik kita, pun untuk hidup itu sendiri. Belajarlah arti perpisahan sebelum memulai sebuah pertemuan. Pahamilah makna luka ketika akan tertawa. Bersyukurlah, beban dan segala yang memupuk kini telah sirna. Walau untuk sesaat, selalu ada ruang-ruang kosong yang tertinggal, semacam belatung-belatung di sisa sarapan pagi kita hari kemarin. Kau tidak sendiri, Sobat. Aku pun telah banyak kehilangan. Mulailah mencintai tanpa takut kehilangan.

Bandung, 230805

Kita dalam Sebuah Percakapan

Ia datang bersama malam. Pada suatu ketika. Waktu itu musim belum beranjak bosan dari kecemasannya. Dan aku merasakan kegelisahan yang tiba-tiba. Rasanya bagai menopang seluruh beban semesta di bahuku. Tapi tatap matanya memancarkan keceriaan sebuah permainan. Bermanja serupa bocah gadis yang memohon sebuah boneka Barbie untuk kado ulang tahunnya. Lama memang kami tak jumpa. Masing-masing harus membenamkan diri pada kesibukan yang di luar batas kewajaran. Ini mungkin sekadar jeda, sebuah liburan singkat. Dan ia tanpa ragu menyerbuku, berharap melepas setumpuk kerinduan yang telah hampir meledak di dadanya.

Maka bermanja-rialah sikapnya padaku. Kemesraan yang tak mampu terbendung. Kami habiskan waktu dengan masa bersama sepenuhnya. Serasa tak ada lagi waktu, karena dunia mungkin akan luluh lantak di esok hari. Dan hal yang paling indah baginya selalu, adalah memandang langit malam yang penuh tebaran bintang. Saat itu, kami akan luangkan waktu sejenak. Menghamparkan diri pada sebuah taman lapang untuk kemudian duduk atau berbaring menengadah. Mengagumi keindahan langit malam tanpa berdecak. Hanya sesekali kami berbincang, selebihnya adalah menyimpan tatap dan angan pada suatu ruang yang entah di mana.

Namun kali ini, aku merasa tak biasa. Resah yang selama ini menebar benih, telah menyubur, belukarnya terasa amat menyesakkan. Aku mengerti. Kami tak selamanya bisa bersama. Ini hanyalah sebuah kefanaan. Sesuatu yang akan pupus dihantam putaran waktu. Dan kami telah begitu saling mengerti. Menunggu satu sama lain untuk bersiap, berkemas, untuk kemudian menghilang. Mungkin inilah waktu itu. Dan sebagaimana perkiraanku, dialah yang akan melenyapkan diri terlebih dahulu.

Ia melamarku kemarin malam, ucapnya di sela waktu.

“Sungguh.”

Ya, awalnya sih aku kira bercanda, tapi sepertinya serius.

“Aku ngak tahu harus bilang apa. Kebanyakan perempuan akan bahagia bila dilamar. Selamat! Aku turut bahagia untukmu.”

Sungguh?

“Tentu saja.”

Ia menanggapinya dengan diam. Tiba-tiba aku menghirup nafas mendung di wajahnya.

“Kenapa? Ada masalah?”

Aku sedih.

“Ya, kelihatan di muka kamu.”

Aku harus bagaimana? tanyanya sunggguh-sunggguh.

“Secara harfiah, kalian seharusnya sudah sama-sama siap. Masalahnya, mungkin secara psikologis kamu masih bimbang. Tapi kamu sendiri telah tahu jawabannya. Banyak hal yang tak perlu dipertimbangkan, kamu hanya perlu melakukan.”

Sulit rasanya membayangkan harus memasrahkan segenap raga, juga sukma pada laki-laki yang tidak kucintai.

“Kamu berhak memilih. Tapi aku ragu kamu bisa. Pahamilah dari kini. Inilah kepatutan hidup. Setiap pilihan menyimpan setiap kemungkinan, juga kesulitan-kesulitan. Namun, ketika kau telah memutuskan, tak ada waktu lagi untuk membantah. Segalanya mesti kau terima dengan tabah. Yakinlah bahwa Tuhan bersama orang-orang yang penyabar. Dan kenyataannya, tidak sedikit pasangan yang mulai belajar mencintai setelah mereka bersama. Aku yakin kamu bisa. Biarlah waktu yang nanti akan membantumu. Usailah meresahkan diri sendiri, suatu ketika akan kau temukan jawabannya.”

Hanya satu yang kini kupikirkan, katanya tiba-tiba.

“Apa?”

Kamu.

“Lho, kenapa dengan aku?”

Aku masih menginginkan kamu.

Kata-katanya menyimpan kesungguhan yang sempurna. Pandangannya menyergapku dengan lekat. Tapi kini aku telah begitu terbiasa dengan permohonan semacam ini. Telah lama, terlalu lama. Kami selalu memperdebatkan hal yang sama. Namun, tak juga kunjung kami mengerti segala yang terjadi.

“Kita sudah bicara banyak tentang ini. Hadapilah kenyataan. Sudah tak ada takdir untuk kita. Aku hanya persinggahan sejenak.”

Kenapa aku tak bisa memiliki orang yang aku cintai? tanyanya kembali dengan lantang.

“Kenyataannya bahwa sebagian besar perempuan tampaknya tidak terlalu membutuhkan laki-laki yang dia cintai, sebaliknya ia lebih perlu laki-laki yang mencintanya. Suatu saat kamu akan sadari itu.”

Sepertinya ia tak terlalu puas dengan sebuah jawaban. Kembali ditatapnya mataku lekat dan erat. Dahinya berkerut. Sebuah tanda bahwa ia berpikir banyak-banyak. Dan pertanyaan yang ia lontarkan kemudian begitu pekat dengan rasa curiga.

Katakan! Apakah kau juga menginginkanku sebagaimana aku menginginkanmu?

“Sejujurnya,” ucapku dengan mencoba mengais setiap kemungkinan untuk sebuah jawaban yang terbaik, “aku pernah menginginkanmu.”

Pernah?

“Ya, pernah. Tapi kita sama-sama tahu. Impian itu kandas sejak .... Ah, mungkin kita tak perlu mengungkit masa lalu. Untuk kemudian hanya akan mengungkap kenangan buruk. Lalu berdebat tentang penyesalan, cinta, juga airmata. Dan kita, kemudian akan kembali berputar-putar di tempat yang sama.”

Apakah kini kau tidak lagi mencintaiku?

“Tentu tidak mudah melupakan cinta. Aku masih mengasihimu. Itu benar. Tapi kita telah sama-sama mengerti kesulitan yang kita hadapi. Pengalaman hidup mengajarkan aku untuk berlaku bijak dan tabah. Setelah banyak aku kehilangan sesuatu. Bahkan untuk yang paling pedih sekalipun. Kini, kita mesti banyak belajar untuk mencintai tanpa takut kehilangan.”

Tapi aku tak ingin kehilangan kamu. Aku ingin terus mencintaimu. Aku ingin tetap memilikimu. Selalu sampai kapanpun.

Perasaannya kian meluap serupa ombak pasang.

“Tentu, aku tak bisa memaksamu untuk berhenti mencintaiku. Hanya hatimu sendiri yang mampu melakukannya. Tapi ada orang lain yang mungkin lebih berhak memilikimu. Seseorang yang dulu telah kau pilih. Tak perduli walau rasa penyesalan itu masih selalu menjeratmu. Aku yakin, waktu bisa mengatasi segalanya, tak terkecuali cinta. Lambat laun aku akan tergantikan, cinta ialah ibarat jamur di musim penghujan. Akan muncul dengan tiba-tiba. Karena itu, bukakanlah hatimu. Belajarlah untuk mencintainya dan kau akan menemukan kasih sejatimu.”

Malam bertambah malam. Aliran dingin menyergap suasana. Menyelusup ke dasar hati yang terdalam. Dan sedikit demi sedikit membangkitkan kekecewaannya akan harapan yang tak berbalas.

Sepertinya kamu senang ya, kalau aku pergi dari kamu? Agar kamu juga bisa pergi ke lain hati, kan?

“Tak baik berburuk sangka. Tentu orang-orang akan yang bersedih jika kehilangan orang terdekatnya, tak terkecuali aku. Demi Tuhan, aku akan sedih kehilanganmu. Kita tak mampu bersama bukan karena sebuah alasan, tetapi lebih karena sebuah keniscayaan. Tak pernah ada sesuatu yang abadi, pun untuk hidup itu sendiri. Segalanya hanya sebuah kesementaraan. Sadarilah arti perpisahan sebelum memulai sebuah pertemuan. Pahamilah makna luka ketika akan tertawa. Karena perpisahan kadang juga menyimpan setumpuk pelajaran dan kebaikan. Suatu saat kau akan mengerti itu, aku yakin.”

Aku tuh nekad banget ya, terlalu memaksakan kehendak, ujarnya kemudian.

“Aku telah mengenalmu jauh dari yang kamu kira. Kamu pemberani, seperti pejuang. Tegar bagai karang, berkobar laksana api. Telah banyak yang kamu hadapi. Dan itu membuatmu belajar untuk terus bertahan tanpa menyerah. Karena menyerah adalah berarti pupus. Tergilas kenyataan yang tak memihak. Hidup mengajarkan kamu untuk memaksakan setiap cara, juga kemungkinan. Aku tak pernah menyalahkan kamu demi alasan semacam itu. Sunggguh, aku sangat bermaklum diri.”

Tak bisakah kamu seperti aku. Mempertahankan apa yang kita rasakan?

“Aku mempertahankan apa yang sebaiknya aku pertahankan. Dan itu telah berlalu sejak kepergianmu waktu itu. Lagi pula, aku tak pernah mengemis apa pun pada siapa pun. Sebab beginilah aku adanya, menerima apa yang berhak aku terima. Dan melepaskan apa yang tak berhak aku pertahankan.”

Kamu pengecut. Kamu tak punya keberanian untuk menentang kenyataan, tuduhnya dengan keras.

Aku menghela nafas. Sekadar menghembuskan keriuhan yang menumpuk di dadaku. Sungguh, betapa aku mencoba memaparkan setiap penjelasan dengan bijak dan seksama. Namun, ketika logika dikalahkan prasangka, maka tak pernah ada penafsiran yang sama. Aku dan dirinya selalu bersimpang pemikiran.

“Sebaliknya,” lanjutku kembali, “aku belajar meneguhkan hati dan mengalahkan setiap ketakutan untuk tetap bersikukuh pada apa yang telah aku yakini. Ketahuilah, aku telah banyak mencoba dan itu sudah cukup bagiku. Aku harus memamah setiap kekhawatiran dan mengingkari kenyataan bahwa aku masih mengasihimu. Dan jalan hidup mengharuskan kita untuk tak lagi memaksakan perasaan. Lagi pula, siapa yang mampu menolak kenyataan, pun tidak untukmu. Kita telah sama-sama tahu itu.”

Tapi ini bukan hal yang kuinginkan. Aku terperangkap. Dan hidup —entah bagaimana caranya— telah memaksaku untuk tak bisa mengelak dari keharusan yang menyebalkan ini.

“Aku paham. Itulah sebabnya aku mencoba untuk selalu terbuka memaafkan setiap kesalahan di masa lalumu. Dan menerimamu untuk bersama walau sesaat, sebelum kau benar-benar pergi. Karena itu, seharusnya kita tak perlu memperdebatkan semuanya. Kita telah cukup lelah dengan itu semua. Kini, sandarkan bebanmu padaku. Aku tahu, kamu begitu penat setelah banyak bergulat dengan keharusan hidup. Menepilah di sini, dalam pelukanku. Ada secangkir kasih yang hangat untukmu.”

Sejenak gundahnya mereda. Aku tak bisa meneruskan persengketaan ini. Semacam lorong-lorong gelap tak bertepi. Di mana hanya kebuntuan yang akan kutemui setelahnya. Mungkin rayuan semacam itu bisa menghilangkan resahnya walau sesaat. Ia pun tersadar sejenak. Kemudian mengibaskan butiran mutiara yang telah mulai berderai dari tatapnya. Perlahan ia sandarkan tubuhnya dalam dekapku. Dan kembali menatap kerlip bintang di lautan malam.

Ah, aku menyesali masa lalu. Kini aku merasa begitu bodoh hingga pernah meninggalkan orang yang begitu kucintai.

“Tak perlu menyesal. Karena kini kita masih bisa bersama. Lupakan apa yang telah dan seharusnya terjadi. Segalanya telah berlalu dan menjadi pelajaran bagi kita. Kini, nikmatilah waktu yang tersisa. Kita curahkan dengan kenangan indah dan ingatan-ingatan yang tak akan terlupakan.”

Aku khawatir kau akan pergi dariku? katanya kembali.

“Tidak, aku akan tetap ada di sini. Mungkin untuk terus mengenangmu. Karena hidup juga menyisakan banyak ingatan yang tak terlupakan. Tapi kita terlarang untuk terus tenggelam di dalamnya. Karena bayang-bayang masa lalu ialah semacam lorong-lorong labirin tak berujung. Sungguh teramat menyesatkan. Sebaliknya, mungkin aku juga perlu untuk memulai hidup baru. Lepas dari jerat rutinitas satu, untuk kemudian terperangkap ke lain rutinitas. Bukankah hidup harus terus dijalani. Dan kita masih punya impian, bukan? Ada banyak cara untuk mewujudkannya. Walau hidup selalu memberikan berbagai macam kemungkinan yang tak terduga. Dan kita akan selalu kalah bila bertaruh tentang apa yang akan terjadi. Tapi setiap kemungkinan menyimpan harapan, pengalaman, dan pelajaran baru tentang hidup itu sendiri.”

Lalu, setelah ini kau akan bersama siapa?

“Jangan khawatir, masih ada banyak orang yang berharap dan menungggu. Aku tidak akan kesepian tanpamu. Tapi tidak dalam waktu dekat, karena untuk saat ini aku harus banyak menenangkan diri. Berbenah dengan perasaan dan pikiran yang telah lama tak beraturan. Tetap doakan aku untuk bahagia, sebagaimana juga aku selalu mendoakanmu.”

Tapi aku tetap tak ingin kita berpisah. Tuh kan, akhirnya aku selalu merasa kalah. Dan kamu selalu membuat aku merasa semakin kalah. Kenapa sih, apa yang aku ingini ngak pernah bisa terjadi, untuk sekali ini saja.

Lembaran kaca kembali berlinang dalam tatapnya.

“Pandailah bersyukur. Mengapa kita selalu lupa dengan semua yang telah diberikan hidup untuk kita, tapi tak pernah lupa segala yang tidak diberikan hidup untuk kita. Aku tahu, telah banyak pedih yang kamu jalani hingga kamu seperti sekarang ini. Ada banyak cobaan, aral, dan rintang. Tentu itu menyakitkan. Puncak tinggi tak berjalan landai, tapi keras dan terjal. Keindahan menanti dipuncaknya. Dan lihatlah sekarang. Telah lahir sesosok yang baru, seseorang perempuan yang setegar karang. Tak perduli walau onak dan duri tertancap di hatinya. Bahkan mampu menahan badai dan hujan sekalipun. Seorang perempuan yang juga memiliki kepercayaan diri setinggi langit dengan semangat berjuang dan pantang menyerah yang selalu berkobar di hatinya? Dan lihatlah pula segala yang telah kau raih dari penderitaan dan kerja kerasmu selama ini. Kamu tentu tidak lupa mensyukuri itu, bukan? Karena telah banyak bukti bahwa kau berhasil melewati semuanya. Kini, tentu kau tak ingin persoalan remeh semacam ini mampu membuatmu kembali porak poranda. Ayolah, mulai kini, bangkitlah! Hapus kesedihan itu dari air matamu.”

Kuhapus lembayung airmata yang kembali mengalir di pipinya. Sendu. Ia semakin terisak. Aku selalu tak cukup memiliki kekuatan untuk menghadapi kesedihan perempuan yang aku kasihi. Walau bagaimanapun, pernah suatu kali aku larut dalam kesyahduan tatap matanya. Digenggamnya kemudian usapan tanganku. Ditujukannya tatap matanya yang berkaca-kaca itu padaku. Lekat-lekat. Ada sesuatu yang mengalir lambat-lambat. Menyelimuti suasana yang semakin muram dan dingin. Kesedihan itu tak mampu ditahannya lebih lama, dipacu oleh semacam kehendak untuk kembali bersandar pada harapan dan kasihnya selama ini. Maka dipeluknya tubuhku erat, melepaskan tangis dan sembilu yang bergulung di dadanya. Siapakah aku bila mengelak dari curahan cinta semacam ini. Kuusap pula tebar rambutnya. Mengalirkan kemesraan yang menghunjam. Dan di sela-sela ratapnya, ia berbisik lirih.

Maafkan aku. Aku akan tetap mencintaimu seperti matahari yang selalu menyinari bumi.

Dan sejak itu, waktu menelannya ke sebuah tempat tak bernama. Kami beranjak untuk saling melenyapkan diri. Memamah takdir hidup yang senantiasa tak terduga. Namun, di setiap musim, setiap aku memandang langit, di mana bintang-bintang bertahta dengan sempurna, ia serasa selalu hadir di suatu tempat, entah di mana. Mengukir kenangan, juga cinta yang mengendap. Dan di setiap menjelang fajar, kusaksikan ia bangkit dari peraduannya yang entah. Mengalirkan cinta yang bersinar hangat. Sebagaimana yang telah diucapkannya terakhir kali, sebelum ia melenyapkan diri.

Bandung, 170806

14 August 2006

Me in Half



tubuhku membelah dua, menjadi tiga, lima
bahkan terpotong seribu
sukmaku menjelma serpihan kalut, airmata,
juga sunyi yang menganak sungai
O, sampai di mana tatapku, Ibu
sedang langit tak jua tergapai
sedang dasar tak kunjung dangkal
sedang ranting tak lagi puncak
sedang matamu
belum juga masak
penuh kemelut dendam

bandung, 140806

09 August 2006

AKu dan Kau pada Suatu Waktu

Mengapa kau selalu saja menimbun-nimbun masa lalu. Sedang kita belum juga memastikan akan ke mana kita melangkah. Kenangan pahit ialah semacam labirin tak berujung, yang hanya akan membuat kita tersesat di dalamnya, masih juga kau tangisi kepergiannya, sementara jejak yang ia tinggalkan telah begitu lama tersapu angin dan hujan. Lalu untuk apa pula aku ada di sini jika tidak untuk berbagi. Sia-sia saja kau tangisi, sampai kapan pun juga ia tak akan kembali.

Mungkin kau masih ingat, kutemukan kau di sela-sela tangismu sore itu, di sebuah taman yang muram. Kekasihmu pergi dan kau masih tak rela untuk melepasnya. Apalagi yang harus kukatakan saat itu, selain beberapa patah kata untuk ketegaranmu. Akhirnya, lambat laun tangismu itu mereda, dan kau mulai mencoba untuk tersenyum ketika di kejauhan sana kau melihat tiga orang bocah berlari-lari kecil dan bermain-main untuk kemudian terjatuh. Teringat masa kecil, ujarmu.

Tapi itu bukan kali pertama dan terakhir. Di waktu yang lain, aku pernah menjumpaimu tengah meratapi foto usang laki-laki yang telah meninggalkanmu itu. Hatiku bergejolak dan sesak. Terlebih kau hanya mampu untuk menangis. Apalagi yang harus kulakukan, aku hanya tak ingin melihatmu bersedih karenanya. Maka kurampas foto itu darimu, lalu kurobek menjadi bagian-bagian kecil yang tak mudah lagi untuk dikenali. Kau pun marah dan menamparku. Mencaci maki dengan kata–kata kotor dan kejam. Aku hanya terdiam. Dan airmata pun kian menderas tumpah di pipimu yang senantiasa memerah. Namun, tiba-tiba kau seperti tersadar telah melakukan suatu kesalahan. Di sela-sela tangismu kau meminta maaf, kau katakan bahwa kau sangat merindukannya untuk kembali, walau sebenarnya itu adalah hal yang tak mungkin terjadi. Dan itu membuat aku kian tak mengerti.

Keesokan harinya kau hadir dalam keceriaan, tapi aku belum juga mampu untuk menerka arti kegembiraanmu itu. Kutatap lekat-lekat bola matamu yang berbinar-binar. Lalu kukatakan saja bahwa kau tampak begitu memesona dengan tatap mata yang seperti itu. Kau tersenyum, lalu bertanya tentang sesuatu yang paling aku harapkan selama ini. Aku tak perlu waktu lama untuk berpikir, karena hal yang paling kuharapkan adalah saat-saat untuk selalu bersamamu, kapan pun dan di mana pun. Tapi tentunya aku tak seterus terang itu. Kukatakan saja padamu bahwa aku sangat mengharapkan kebahagiaan. Sebuah jawaban yang sangat klise dan abstrak. Kau pun tersenyum dan mendoakan semoga aku mendapatnya. Akan tetapi, ketika aku kembali bertanya tentang hal yang paling kau harapkan, segalanya berubah dengan tiba-tiba. Pandanganmu menunduk. Wajahmu mengabarkan kemuraman yang meraja. Kau mengalihkan pembicaraan dan berpaling seketika. Ah, sepertinya aku telah salah bicara. Entahlah.

Lalu kau pun menjalani keseharian dengan sebagaimana mestinya. Rutinitas yang biasa kau jalani. Kau adalah seorang putri pembesar. Segalanya bisa kau miliki tanpa terkecuali. Sementara aku hanyalah seorang penjual bunga yang berada tak jauh dari rumahmu. Hanya sesekali kita berjumpa. Itu pun jika kerinduanmu akan bunga-bunga telah menjerat rutinitas kerjamu. Aku adalah pungguk. Sedangkan kau adalah rembulan yang begitu dirindukan. Tapi kau bukanlah seorang yang angkuh, karena pada akhirnya perlahan-lahan telah kita bina hubungan baik yang sekadarnya.

Kita adalah sahabat baik yang sama-sama menyukai bunga, begitu katamu selalu. Tapi aku mengelak karena entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja aku menaruh hati padamu, tentu saja saat itu aku hanya bisa mengungkapkannya dalam anganku sendiri, karena aku tahu bahwa mengungkapnya padamu hanya akan membuat semua yang telah kita bina selama ini menjadi porak poranda. Biarlah, hal itu kusimpan baik-baik, hingga tiba saat yang sungguh-sungguh tepat.

Selebihnya, aku mencoba untuk membangun dan menciptakan hal-hal yang indah bersamamu. Hingga suatu saat, kalau pun impianku kandas, setidaknya ada hal-hal membahagiakan yang pernah kita kenang. Semacam perjalanan-perjalanan manis yang pernah kita lalui dengan menyenangkan. Membawamu dalam rasa ceria dan tawa yang renyah, juga senyum yang menawan. Pernahkah kau ingat, di suatu senja yang merona, kubawa kau menuju ladang bunga. Kita hirup tebaran aroma bunga-bunga yang tengah memekarkan diri. Lalu, kita petik bunga-bunga itu bersama. Setelah sebelumnya kuajari kau cara menanam, merawat, memetik, dan menyiram bunga dengan cara yang tak biasa. Di tengah kebersamaan kita, kau berkata ingin menjelma bunga. Ia adalah perlambang cinta dan warna hidup, katamu saat itu. Ia hadir dengan kecantikan dan pesona yang sempurna. Dikagumi dan dipuja siapa pun. Dinantikan dan diharapkan kapan pun. Ah, sebuah impian yang indah. Jika demikian, menjelmalah bunga di taman hatiku. Akan kurawat, kusirami, dan kujaga senantiasa hingga ia tumbuh dan memekarkan diri dengan pesona dan keharuman yang abadi. Tapi kenyataan ternyata tak semudah harapan. Mengharapkannya berarti sejauh jarak yang terbentang antara langit dan bumi. Hanya mimpi yang tak kan tergapai.

Namun, aku tahu, sangat tahu, di sela-sela keriangan wajahmu, ada sesuatu yang mengendap, kesedihan yang kau tebar menjadi lumut-lumut penghuni kedalaman. Sesuatu yang tak terkatakan, tapi begitu kau rasakan. Belenggu yang menjeratmu hingga kemana pun kau melangkah. Ketahuilah bahwa aku telah terbiasa untuk menangkap banyak hal yang kau simpan. Mungkin ada banyak alasan yang bisa kau ciptakan. Ada banyak kebenaran yang ingin kau tutupi. Tapi mungkinkan segalanya bisa terhindari? Sementara segenap rasa kehilangan itu masih juga kau bawa serta.

Ada banyak alasan untuk mempertahankan cinta. Sebagaimana juga ada banyak alasan alasan untuk melepaskannya. Dan kau adalah jenis perempuan yang begitu memuja kesetiaan. Tak mampu perpaling ke lain hati walau telah kau jumpai pula cinta sepahit empedu. Rasa kehilangan itu tak juga mampu kau pupuskan. Sebaliknya, sedikit demi sedikit, kau simpan menjadi tumpukan karang yang tak kan goyah dihantam seribu gelombang sekalipun. Ada banyak cara untuk memupuskan sedih, tapi kau telah memilih jalan yang paling sesat.


To be Continued

Lima Huruf Menuju Sunyi

Kala itu, diam adalah malam. Ia kembali mencerna resah. Terperangkap sebuah tempat di mana waktu sepertinya tak mau lagi menunggu. Telah lama ia terpendam di sana. Dalam kesenyapan. Sementara layar komputer tetap menyala. Menunggu sesuatu, entah, mungkin tentang sebuah kata atau apapun yang akan ia goreskan di sana. Segalanya selalu menanti, menanti, dan menanti, tanpa kepastian.

“Ia pergi dan tak akan pernah kembali,” lirihnya.

Seperti ada semacam keberanian yang menyelinap di antara aliran darahnya. Jari-jari kurusnya yang selalu bergetar itu kini mulai bergerak. Tombol huruf C di atas papan keyboard ditujunya. Sepermilimeter lagi jari-jari itu akan sampai, namun tiba-tiba terhenti dan kemudian ditariknya kembali. Keengganan bergemuruh di dadanya yang hampa. Ia kembali terjelembab. Matanya bergetar. Kesedihan itu rupanya telah merasuk dalam. Tetes-tetes airmata pun kini menggembang. Sebuah kata tentang luka mengingatkannya akan kisah masa lalu yang pedih. Tubuhnya kini meringkuk. Kedua lutut ia rekatkan, kepalanya ia benamkan dalam isak tangis yang sendu. Walaupun jauh di lubuk hatinya, ia telah merasa malu untuk terus-menerus bersedih.

Tiba-tiba tangisnya terhenti. Ada amarah yang berkilat di matanya. Wajah angkuhnya ia tegakkan. Tubuhnya pun bagai diguncang gempa yang hebat. Di antara denting-denting waktu, ia berteriak keras, menggetarkan dinding-dinding kamar yang telah lama kosong dan lembab. Dan turut pula memecah malam di luar sana, yang kini lelap dengan dinginnya angin malam yang berhembus tajam.

“Persetan dengan airmata!” serunya pada diri sendiri.

Namun akankah ia mengerti bahwa ada sesuatu yang hingga kini tak bisa ia ingkari, dan sampai kapanpun tak akan pernah bisa ia ingkari. Sesuatu yang mengganjal di lelap mimpinya. Semacam ombak yang senantiasa bergulung menghantam pantai. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar airmata dan kesedihan: kenyataankah? Entah.

Kesendirian ini tentunya hanya untuk dirinya sendiri. Bukankah kini tak ada lagi yang rela untuk menampung segenap asa dan kerinduannya itu. Kesendirian yang begitu rapi ia simpan di setiap hembusan nafasnya yang nestapa. Dan kesendirian, baginya kini ialah pintu kamar yang terkunci rapat, jendela yang terpaku, lubang ventilasi yang terisolasi, dan tentunya suara yang terbungkam, juga segala sesuatu yang hanya bisa ia nikmati sendiri.

Tajam tatapnya kembali menuju layar komputer. Harus ada yang terselesaikan, pikirnya. Tanpa terasa bulatan putih matanya kian memerah. Seperti bara api yang senantiasa menyimpan amarah. Lalu hamparan puisi yang sedari tadi berceceran di sekitarnya, diraihnya kembali. Dengan beringas ia tampak mencari-cari. Pikirannya menyeruak suasana.

“Kata…kata…kata…kata…,” ucapnya pada hamparan puisi itu.

Ia menemukan sesuatu, ya, sesuatu. Selembar puisi diraihnya erat-erat. Lalu dibacanya pula dalam diam. Bibir keringnya tampak gemetar. Ia pun memejamkan mata. Pikirannya seperti tengah meresapi mantra-mantra yang hakiki. Absurditas yang biasa ia puja di setiap aliran waktu. Keliaran imajinasi yang pasti akan membawanya ke dalam ruang di mana realita dan sesuatu yang semu seakan tiada bedanya. Tubuh kasarnya terdiam tanpa gerak. Bahkan mungkin tanpa nafas, tanpa denyut nadi, dan tanpa detak jantung sekalipun. Namun wajahnya menampakan ketenangan, didekap kehampaan yang paling sublim. Sekali lagi, sebuah kenikmatan yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Keheningan yang kian menggelora, tapi ia sama sekali tak merasa kehilangan apapun. Hanya sebuah keterasingan yang lepas dari sebuah rutinitas hidup, teramat merdeka, tak terjajah oleh sesuatu.

Perlahan-lahan kini pelupuk matanya membuka. Jiwanya seakan baru saja terlahir kembali dari sebuah rahim bernama sunyi, yang telah mengandungnya selama berabad-abad. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sungguh, kegelisahannya kini mereda sesaat. Seperti kemarau di tengah gurun sahara yang gersang, tiba-tiba terguyur hujan lebat yang menyejukan.

“Sebait puisi,…ah, tidak! Aku telah terlalu lelah dengan puisi. Namun apalagi kini yang harus aku renungi. Oh, Tuhan, jangan biarkan aku senantiasa terpuruk di dalamnya…” kata-katanya terhenti seketika.

Dipandanginya layar komputer kembali. Ia tersentak. Ada huruf C terpampang di lembaran putih komputernya. Aneh, ia merasa belum sempat untuk menekan tombol huruf C. Namun, kini tidak ada waktu untuk bertanya-tanya lagi. Jawaban telah menjelma labirin-labirin hampa di otaknya. Tanpa sadar, jari telunjuknya kini telah menekan tombol huruf C dengan kelelapan yang panjang. Terpampanglah seketika deretan huruf C yang berjejer rapi. Setelah sampai pada baris kedua, ia baru tersadar.

“Oh, apa yang telah kulakukan?” sesalnya pada diri sendiri.

Sebenarnya sesal ialah sesuatu yang teramat ia benci. Baginya, sesal hanyalah perbuatan bodoh manusia. Pertanda ketidakyakinan atas apa yang telah dilakukan, ketidaksadaran atas setiap resiko yang hadir di setiap langkah kehidupan, dan semacam ketidakmampuan menerima segala ketentuan yang telah digariskan oleh Sang Penentu. Sementara waktu, toh, tak pernah bisa berbalik arah, lalu untuk apa manusia harus merasa menyesal atas semua yang telah dilakukannya. Namun, pendiriannya kini adalah semacam konsekuensi dari luka yang pernah dideritanya di masa lalu. Ia tiba-tiba teringat pada suatu masa di mana ia pernah mengalami sebuah penyesalan yang begitu mendalam. Sebuah kisah yang melankolis, tetapi berakhir dengan goresan derita hingga seumur hidupnya. Tentang seorang perempuan berwajah hujan, tentang cinta yang pernah bersemi, tentang dahaga dan hampa yang terpuaskan, tentang kemesraan yang mendesah, dan tentang sebuah pelukan yang senantiasa hangat. Sekian lama ia terbuai di dalamnya, larut di antara kesyahduan yang membunga. Sehingga suatu kali, pernah juga ia banyak mengucap puji syukur kepada Tuhan karena telah sudi menciptakan makhluk bernama perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Bukankah satu sama lainnya tak pernah bisa hidup sendiri. Namun, realita sepertinya tak pernah memihak pada manusia semacam dirinya. Harapan yang tak sejalan dengan kenyataan. Karena pada akhirnya, perempuan yang telah sekian lama dipujanya itu, tiba-tiba menghilang dan tak pernah kembali. Entah kemana dan mengapa.

“Kesetiaan rupanya tak pernah bisa benar-benar bermakna,” ucapnya waktu itu, di antara waktu yang berguguran.

Ketabahannya roboh seketika. Penyesalan perlahan-lahan menyusupi denyut nadinya, desah nafasnya, detak jantungnya, bahkan setiap helai jiwanya. Ia menyesal telah terbuai bujuk perasaan yang seharusnya tak patut ia percayai. Dan ia pun menyesal karena telah mengabaikan bisik logika yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. Itulah di mana ia pernah merasakan penyesalan untuk yang pertama kalinya dan sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya, ia pun menyesal karena telah merasa menyesal. Sejak itulah, ia mengasingkan diri, mencoba memahami kembali segalanya dengan meresapi segenap kesendirian dan sunyi.

Layar komputer masih menunggunya untuk berkata. Ada bisik hati yang menuntun jari telunjuk kanannya untuk menekan tombol huruf I. Sejenak pikirannya bimbang akan sesuatu. Dan kini, ia teramat merasa ragu-ragu. Seribu pertanyaan pun berkecamuk: mengapa harus huruf I, mengapa tidak huruf yang lain saja, ada apa dengan huruf I, begitu berartikah huruf I, dan sebagainya, dan sebagainya. Namun ia terlambat, sebuah kekuatan asing menarik jari telunjuk kanannya untuk menekan tombol huruf I. Akhirnya terpampanglah di layar komputer, huruf I yang tegak dengan angkuhnya.

“Mengapa aku tak pernah mampu untuk mengeja hidupku sendiri,” teriaknya dalam kekesalan.

Lembaran puisi yang berserakan, layar komputer yang mengambang, ruang yang kosong, dan kesendirian yang hampa, menggambarkan kepedihannya yang semakin meraja. Pernah pula ia berspekulasi, mencoba untuk mengerti arti hidup melalui 1001 jalan kematian.

“Bukankah setiap yang hidup itu pasti mati. Lalu untuk apalagi aku menundanya, jika hidup pun aku serasa mati,” ujarnya saat itu.

Karena itu, beberapa kali ia mencoba untuk membunuh dirinya sendiri, baik itu dengan terjun bebas dari ketinggian puluhan meter tanpa pengaman dengan kepala berada di bawah, membakar tubuhnya sendiri dengan guyuran bensin, meminum racun yang paling mematikan, menggantung lehernya di tiang gantungan, menenggelamkan diri di lautan, menusuk jantungnya dengan senjata tajam, maupun menembak kepalanya dengan pistol sungguhan. Namun Tuhan sepertinya belum berkehendak ia mati. Dan setiap kali percobaan bunuh diri itu dilakukannya, setiap kali pula ada keajaiban yang membuatnya masih tetap hidup. Dalam kegagalannya, akhirnya ia pun tersadar bahwa terlalu bodoh bagi dirinya untuk sekadar berputus asa, naif, dan sia-sia.

Ia kemudian kembali teringat pada lembaran puisi yang berserakan itu. Dipandanginya satu persatu dengan cermat. Mungkin ada jutaan huruf, ribuan kata, dan ratusan kalimat di sana. Adakah yang paling istimewa di antaranya, pikirnya. Tanpa sadar, ada sebuah huruf yang paling menggoda tatapnya di antara jutaan huruf, ribuan kata, dan ratusan kalimat itu. Ia menemukan huruf N, ya, huruf N. Baginya, huruf itu begitu memesona, entah mengapa. Tanpa ragu lagi, sebuah jari tangannya digerakkan menekan tombol huruf N, maka tercetaklah di layar komputer itu huruf N, setelah huruf C dan I.

Walaupun begitu, ia masih merasa kehilangan sesuatu. Seketika terbersit keinginannya untuk mengadu, tapi pada siapa, pada apa, dan mesti bagaimana. Sesungguhnya ada dua tempat yang pernah menjadi tempatnya mengadu. Pertama, yaitu perempuan yang kini telah pergi dan tidak akan pernah kembali itu. Sementara yang kedua adalah orang tua kandungnya yang juga kini telah tiada. Tentang kedua orang tuanya, ia banyak mengenang, yaitu masa ketika kedua orang tuanya masih selalu berada di sampingnya, melindunginya, menyayanginya, dan senantiasa membuatnya berarti. Ayahnya ialah seorang pejuang. Ia gugur ketika melawan penjajah, namun jasadnya tidak berada di taman makam pahlawan karena pemerintah tidak pernah berani mengakuinya sebagai pahlawan. Tapi walau bagaimanapun, ia yakin bahwa ayahnya pastilah tak pernah membutuhkan pengakuan dari siapapun. Ayahnya telah bertekad mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela negeri dan bangsa ini tanpa pamrih sekalipun. Baginya, ayah merupakan cermin keberanian. Dan ibu, ibu adalah teladan kasih sayang. Ia merupakan sosok yang penuh welas asih, berjiwa besar, dan penyabar. Setelah kematian ayahnya, ia ingat bagaimana ibunya senantiasa menjaganya dengan keagungan dan ketabahan jiwa seorang perempuan hingga akhir hayatnya. Bagai pengorbanan Kunti kepada anak-anaknya: para Pandawa.

Kenangan itu pun menghilang. Di antara keragu-raguan, ia menyalakan sebatang lilin putih. Kadang seberkas cahaya bisa menjadi semacam pelepas ketegangan kala kegelapan tak lagi mampu untuk mengusir resah. Namun, dengan cahaya itu, ia tak juga mampu mengenal apapun. Telah lama, begitu lama sekali ia merasakan itu. Mungkin sejak rasa itu hilang. Sebuah perasaan yang tak pernah ia percayai hingga kini. Perasaan yang menghempasnya di antara penderitaan akan luka dan pedih yang sangat dalam. Tetapi, ia sepertinya enggan untuk menjelma pertapa dan menjalani hidup yang masokis. Sebagaimana kesadarannya yang tak pernah mengijinkannya untuk terus-menerus berputus asa.

“Buatkan aku sekuntum bahagia!” Ia mencoba untuk bicara.

Bahagia? Tiba-tiba ia tersadar dan mencoba merenungi kata-katanya sendiri. Bukankah bahagia itu hanyalah sebuah lelucon konyol tentang hidup yang sesungguhnya hanya semu belaka. Ah, ia mungkin tak ingat lagi apa yang pernah dikatakannya dulu tentang bahagia. Sambil berpikir tajam, jari tangannya tanpa sengaja menekan tombol huruf T. Sementara ia sendiri tetap bergumam dengan kata bahagia. Mencari-cari jawaban yang tak pernah ia punyai. Namun, tatap matanya tetap menerawang, seakan menembus setiap batas realita. Hingga sepersekian detik kemudian ia kembali tersadar. Ia paham bahwa miliaran mimpinya pun pasti tak akan pernah mampu memahami apa arti bahagia, sebab ia tak pernah mampu benar-benar merasakannya, baik di masa lalu, kini, atau di masa yang akan datang sekalipun.

Lalu, apakah yang selama ini ia tunggu? Ia sendiri pun sebenarnya tak pernah mencoba untuk mengerti. Ruang yang masih tetap kosong dan lembab, lembaran puisi yang berserakan, dan layar komputer dengan deretan empat buah huruf yang tertera di dalamnya, menunjukan apa yang telah dicapai dan di jalaninya selama ini: sebuah romantisme hidup yang penuh fatamorgana. Benarkah itu semua yang ia cita-citakan selama ini? Tak pernah ada yang tahu. Sementara deretan empat huruf di layar komputer itu sepertinya menunjukan sesuatu. Dan tiba-tiba sebuah huruf baru pun muncul, entah dari mana datangnya, menambah deretan huruf itu menjadi lima buah. Huruf A berada paling akhir setelah huruf C, I, N, dan T. Kemudian kelima huruf itu pun terlihat bercahaya. Sungguh, sebuah keanehan yang mistis. Apakah deretan huruf itu mengungkapkan sesuatu? Kini ia tak akan pernah mampu lagi untuk menjawab. Selamanya hanya diam, diam, dan diam, menuju kesunyian yang paling dalam.

Bandung, 07122003, 04:00

28 July 2006

Sajak-Sajak Seuntai Musim

Di matamu

Aku telah melihat seribu macam peristiwa
di matamu, dan hanya perlu satu macam cara lagi
Untuk menuai setiap keinginan
Tapi akulah laki-laki pemurung itu,
Yang terlalu sulit menentukan peta arah dan tujuan
Hingga membuat senja terlampau cepat terbenam
di lautan tatapmu. Tapi aku merasa itu tak lebih penting
dari sebuah mimpi, sebagaimana rasa terimakasihku
padamu selama ini.

Bandung, 030705


Memorabilia

Sejauh langit berlabuh
Setiap ingatan memiliki jalan pulang
Di mana ia akan selalu terbenam
Sebab begitu pulalah dengan tatapmu

Dan akulah yang paling memahami arti penantian.
Lalu kau akan senantiasa menoleh
Padahal setiap kejadian telah diketahui
Dan tak ada takdir untuk kita

Tapi biarkanlah setiap musim bergulir
Lalu malam mengeja keluguannya
Menanam benih yang tak berbuah
Selayaknya mimpi bulan terpenggal
Mengharap janji yang tak terbeli.

Indramayu, 5 November 2005


JARAK

Kadang aku merasa dekat
Kadang pula merasa jauh
Jauh itu dekat
Dekat itu ternyata jauh
Jauh pada yang dekat
Dekat pada yang jauh

Lalu, jarak itu berarti apa?

Bandung, 2003


INI SUATU WAKTU

Ini suatu waktu
Ketika aku menemukanmu
Melalui senja yang berjalan
Sedang aku belum menuntaskan
Kegelisahan akan sajak-sajak yang berterbangan

Ini suatu waktu
Ketika matahari tak lagi jinak
Menunduk diam-diam dari wajahmu
Dan kita telah mengakhiri kesepakatan
Untuk saling menyulam kekhawatiran

Ini suatu waktu
Ketika aku telah mabuk
Oleh jutaaan cemas, juga guguran daun-daun
Sementara senja perlahan tuntas
Dengan kecemburuaannya

10905


Musim

Telah tiba waktu-waktu sederhana
Selama musim belum beranjak bosan
Tetapi aku telanjur kehilangan senyum
Bedesir serupa kegelapan

10905


Metafor Matahari

Di matamu kalut terasa jinak
Membisikan rasa rindu yang pedas
Sedang aku tak punya banyak bumbu
Matahari telah memasak hidangan yang ketus tadi pagi
Dan berduyun lalat-lalat menyisihkan makna setiap musim

Telah aku undang pula sunyi dari balik bajumu
Tergenggam hari siang serta pura rupa
Dan tak perlu banyak waktu bagi airmata
Untuk memesan secangkir senyum
Sementara 24 kutukan menyelinap
Dalam hutan yang angkuh

Aku tak lagi mampu menawar harga kenangan
Dan wajah-wajah bengis tertawa
Memecah runcing beling-beling
gemericik suaranya mengalir riang

Aku harus meminta saran untuk menamaimu
Dalam sisa kericuhan hari esok
Tapi hujan terlanjur mencerna mimpi
Di sudut-sudut kota yang murung

Mari, berlindunglah dalam tebar rambutku
Sebab matamu belum juga masak kini

5 Maret 2006


Menunggumu

Menunggumu ialah serupa memasak hidangan malam
Aku kehilangan banyak cemas. Tertatih mengatur waktu
dan mimpi-mimpi. Hujan telah beramah tamah dengan sedih
Berbisik tentang kepulangan yang bersijingkat
Tapi hidupku penuh kegamangan
Menyelinap diam-diam di balik dinding kamar
yang masih saja meruapkan aroma tubuhmu.

Bergegaslah pulang, duhai hidangan malam, rinduku telah berkarang

040706

Sajak-Sajak Negeri Airmata

PROLOG NEGERI AIRMATA

Telah aku lihat gemuruh airmata
Pada hamparan negeri yang kini luka
Menjelma lautan ombak darah dan kematian
Langit pun bergetar mendekap kesunyian yang tiba-tiba

Doa-doa bertebaran di udara
Menghantarkan timbunan mayat terbuang
Tinggalkan hamparan puing-puing kepedihan
Juga sejarah yang semakin kelam

Telah aku lihat gemuruh airmata
Pada tepian negeri yang semakin hilang
Terkubur runtuhan langit perih
Dan kenangan yang kian menghitam

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 1

Lihatlah, airmata itu telah menganak sungai
Terlalu banyak derita yang ditanggung negeri ini,
Akan kemana kita melangkah sekarang
Di mana pun tak ada jalan pulang yang damai
Terbuanglah kita para pejalan yang selalu tersesat

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 2

Riuh kenangan yang runcing telah melukai tidurku
Kota-kota memenuhi jiwaku dengan senapan dan peluru
Jalanan sentiasa berdarah dalam kalut
Hukumlah kami, wahai angkasa
Sebab tak ada lagi cinta di mana pun

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 3

Biarlah kemalangan itu mengalun bersama udara
Mari kita menari dalam secawan anggur hidup
Kesenangan itu masih terlalu berlimpah, Nona
Sebab kemalangan jenis apapun tak kan mampu menikam dunia
Sudahi saja segala keluh kesah
Mari kita tertawa dan berlupa

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 4

Tidakkah kita sadari arti kefanaan
Persinggahan sementara, juga sia-sia
Setiap gelap pasti menyimpan terangnya
Biarkan harap itu bangkit dari dasar lautan
Mengembangkan setiap kemurungan para pendosa
Dan kita masih melihat angin bertiup menunjuk jalan

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 5

Ketabahan macam apa yang miliki setiap manusia
Bukankah tak ada yang mampu menghindar dari kuasaNya
Berserahlah.....
Berserahlah wahai makhluk-makluk yang diciptakan
Tak ada kekuatan bagi kita selain untuk mengabdi
Sambut hempasan luka ini dengan kepasrahan
Rindukan pertemuan dengan cintaNya

Bandung, Mei 2005


Episode Negeri Airmata 6

Kamilah jiwa-jiwa petaka
Biarlah kami menyadarkan diri dalam bencana
Mengharap pengampunanMu adalah satu-satunya jawaban
Iringkan kami pada jalan ketenangan
Hanya di sisiMu kami berserah
Dalam kepasrahan para pendosa
Di negeri berlumur airmata

Bandung, Mei, 2005


EPILOG NEGERI AIRMATA

Telah kami pasrahkan jiwa-jiwa pendosa
Biarlah malam mengabarkan segala yang patut kami terima
Tersungkur dalam sujud-sujud keheningan
Di antara lantunan harap dan doa yang masih bergema
Mengalun dalam tangis dan pedih yang menikam

Sebab hanya pada-Mu kami berpulang
Sebab hanya pada-Mu kami mengabdi
Sebab hanya pada-Mu kami berserah

Menyusun kembali asa yang terserak
Dalam kepingan sisa waktu
Dan kerinduan
Hanya pada-Mu
Ya, Rabbi ...

Bandung, Mei 2005


Nb: sajak-sajak ini terintegrasi dalam sebuah naskah pagelaran berjudul Negeri Airmata yang saya kreasikan untuk pementasan murid-murid di Bangkel Sastra SMU Pasundan 8

Mencerna Gelombang

Aku melihat kekalutan yang meloncat-loncat
di tepi mimpimu. Sebagaimana yang telah aku janjikan
ketika kau memutuskan untuk memulai perjalanan ke ujung sunyi
Karena telah aku kutuk sebagian musim untuk beranjak
dari keceriaan. Dan daun-daun mengembun bersama tetes airmata
Seperti bertahun lampau, saat pohon-pohon tak lagi bersisikukuh
untuk memulai hidup. Merapuh serupa udara senyap
Sempat pula aku berpikir bahwa perjalananmu ialah
Untuk mencerna gelombang menjadi hujan
Sebab kita belajar untuk tidak menjelma rumah-rumah
Berdiam menatap kesendirian yang akut

Nona, hidup selalu berisi kepergian yang bergegas
Menyisakan belatung-belatung di sarapan pagi kita
Dan aku terus-menerus bertaruh untuk sungai-sungai
yang mengering. Sedang kemarau tak lagi terlalu jinak
untuk mengerti. Tidurku menjelma karang. Tumbuh serupa tanah
Diam-diam melupakan petuah yang acap kali kau sandingkan
di balik malam. Aku tak punya kepercayaan melebihi nabi-nabi
Menyaksikan kau berkemas dengan rakus untuk pulang

Ya, beratus kali kita bersepakat dengan gelisah
Menanam lumut-lumut menghijau di tebing-tebing hati
Tapi gairahmu meruah membakar ketabahan setiap penyair
Tak perlu banyak waktu bagi sejarah untuk mencatat takdir
yang berulang. Dan aku telah cukup masak untuk menyulut dendam
Sebagaimana setiap dinding kamar menyimpan rahasia kejadian
Sebab penantian telah usai, mawarku.
Dan kita, ialah pengelana yang tak pernah tahu ujung jalan
Saling berseberangan.


30706

Aku dan Sendiri

Aku menatap mataku sendiri
Kutemukan rimba belukar, riuh ombak,
juga sunyi yang berdarah-darah.

Aku menghirup nafasku sendiri
Kujumpai tajam pisau, perih langit,
juga gelak airmata

Aku meraba tubuhku sendiri
Kurasakan runcing hidup, pekat malam,
juga kering kemarau

Aku menyimak suaraku sendiri
Kudengar kelakar sungai-sungai, sayatan angin,
juga tangis yang bergolak

Aku menjilat lidahku sendiri
Kukecap resah tanah, puing rumah-rumah,
juga panah-panah amarah

Aku memandang langkahku sendiri
Kulihat jejak kata-kata, kotoran usia,
juga serpihan laut senja

Aku menyelam kian menjauh
Tapi tak jua kunjung mengenal
Siapa aku kala sendiri
TanpaMu

220706

Perempuan dengan Sebuah Kutukan

Mungkinkah aku tak lagi layak untuk terus mencatat kenangan. Tumpukan peristiwa tak lagi bermakna apa-apa. Hanya sesuatu yang hinggap di sepenggal ingatan yang membeku. Mungkin telah lama pula aku merindukan sesuatu. Dinding-dinding yang membisu, malam yang mencekam, serta tiupan angin senantiasa mengantarkan sunyi dan dingin, mengiringi sisa-sisa hidup yang kian entah. Dan waktu, ternyata telah begitu lama berlalu. Namun, mengapa aku belum juga mampu mengentaskan kegelisahan ini. Memaksaku kembali untuk memilah-milah timbunan masa silam: tentangmu. Dan malam, selalu saja terus menerus mengalirkannya kepadaku tanpa suatu alasan.

Ini waktu tengah malam buta, tapi aku berani bertaruh, kau belum juga bisa terlelap. Seperti malam-malam lainnya, kau akan berada di tengah-tengah kebusukan malam, memandangi langit yang tak berbatas, bergumam dengan kata-kata yang tak biasa, dan terus mencoba menulis sajak-sajak yang tak pernah bisa kau tuntaskan. Aku berani memastikan, sekeras apapun kau mencoba, kau tetap tak akan pernah mampu. Karena pada perjumpaan terakhir kita, aku telah mengutukmu untuk tak lagi mampu mencipta sepatah kata pun untuk sajak-sajakmu itu. Tidak perlu sebuah alasan. Aku hanya ingin mencoba membantu. Lagi pula, bukankah kau tak pernah bersungguh-sungguh untuk menuntaskan sajak-sajakmu. Karena serpihan sajak, akhirnya hanya akan mengantarkanmu pada sesuatu yang sunyi. Begitu pula dengan malam ini. Malam yang begitu mengigilkan keheningan. Di mana alunan kenangan akan memaksa setiap ingatan untuk tenggelam dalam kerinduan yang menyiksa, terserak di antara langit malam. Teriringi tembang-tembang syahdu dan lirih. Pada akhirnya, kita akan tiba pada suatu masa di mana diri merasa begitu sepi, begitu sunyi.

Malam ini, seperti juga malam-malam lain selepas kepergianmu. Aku akan berdiam diri dalam kepasrahan. Detik jam masih terdengar dan menggempur sisi batinku yang terdalam. Tapi aku tak pernah lagi peduli waktu, sebagaimana juga kau. “Waktu hanya sebuah penanda sesuatu yang tak pernah menentu,” katamu saat itu. Sepotong lilin kuletakan di sudut kamar. Sekadar teman kala keheningan menyergapku. Pijar cahayanya yang berpendaran mengisi lorong-lorong kegelapan. Lain hal ketika kita masih bersama, mungkin kita akan lebih suka berada dalam gelap. Karena kelam akan membuat kita lebih tenang untuk melakukan apapun. Saat itu aku akan merasa benar-benar menjadi seorang perempuan dan kau akan merasa benar-benar menjadi seorang laki-laki. Semacam perjamuan cinta yang sempurna antarsepasang kekasih. Mula-mula kau akan mendekatkan wajahmu pada telingaku. Kau ucap sebait sajak lirih dalam senyap. Lalu kau ukir perlahan-lahan di setiap jengkal tubuhku. Ada jutaan getar yang memenuhi segenap ruang-ruang yang selama ini terlupakan. Ah, selanjutnya mungkin kau lebih tahu apa yang seharusnya terjadi. Setelahnya, kita akan saling berbagi tatap. Saling mengalirkan kemesraan yang tak pernah bisa kumaknai hanya dengan sekadar kata-kata. Mungkin, kita hanya bisa menafsirkannya dengan isyarat rasa.

Apakah malam ini akan terasa seperti malam-malam yang pernah kita lewati dulu? Sepertinya tidak. Karena malam tak pernah mampu lagi memastikan apapun. Begitu pula dengan kepulanganmu. Satu-satunya hal yang paling aku mengerti dari malam ialah kegelapan. Dan itu akan selalu mengingatkanku akan tajamnya tatap matamu. Ingatkah kau pada perjumpaan kita yang pertama. Saat itu kita bertemu dalam sebuah tempat yang tidak semestinya aku berada di sana. Sungguh, aku benar-benar hilang arah dan tidak seorang pun mau peduli. Dan tiba-tiba kau telah hadir begitu saja di hadapanku dengan tatap kedua bola matamu yang legam, berkata-kata, menyebutkan sebuah nama, menanyakan segala sesuatu -yang sebenarnya terlarang kau ketahui-, menunjukan padaku peta semua arah, lalu pergi begitu saja dengan wajah penuh kemenangan. Pertemuan yang sederhana dan ringkas, sehingga tak ada seorang pun yang mampu menerka jika akhirnya kita bisa berada pada jarak yang lebih dekat dari perkiraan siapapun. Entah, aku tak tahu harus mengucap apa ketika selanjutnya kau telah berada di depan pintu rumahku, menunggu. Kita pun kembali bertemu dan kau terlalu banyak bicara. Sedangkan aku hanya menunduk. Selalu tak kuasa menatap bola matamu itu. Dan satu-satunya kata yang mampu kuucap saat itu hanya, “Tolong jangan hujani aku dengan tatapmu”. Kau pun tersenyum. Kemudian beranjak pergi setelah mengukir sebait sajak kecil berisi pesona di relung hatiku.

Malam-malam selanjutnya kau datang. Masih dengan tatap mata itu. Namun aku kian terbiasa. Bahkan kita telah sama-sama begitu meresapinya. Kau pun lalu mengajariku tentang bagaimana menjahit pijar bintang-bintang di kedalaman tatap matamu itu dengan baris-baris sajak. Lalu menguntainya dengan mimpi-mimpi yang senantiasa hadir di tengah-tengah lamunan kita. Banyak hal yang tumbuh dengan tak terduga, begitu pula dengan cinta, ketika dengan tiba-tiba kita telah saling merasakan segala sesuatunya. Namun, tak ada yang patut disesali. Prasasti itu telah berdiri dengan kokohnya. Kita hiasi dengan pahatan kisah-kisah indah tentang pijar bintang-bintang, keharuman malam, juga legam tatap matamu.

***

Pernah juga kita bicara tentang mimpi-mimpi yang kita temui pada lelap malam. Dan kita pun saling bertukar cerita. Kau berbicara tentang mimpimu di waktu yang tak terduga bahwa kau ingin menjelma dewa. Bermukim di kaki-kaki gunung atau di sekitar pesisir pantai. Hidup bersahaja dengan hanya hal-hal yang bersifat sederhana. Tentu saja aku harus hadir di sana. Mendampingimu menghadapi segala hal yang akan datang menguji. Bercocok tanam, mengail ikan, menernak hewan, juga mencipta sajak-sajak kebahagiaan adalah keseharian kita di sana. “Mimpi yang sempurna bukan?” ucapmu berbangga diri kala itu. Aku pun hanya bisa tersenyum. Lalu kau bertanya tentang mimpiku. Ah, aku pun tersipu. Seandainya kau tahu bahwa satu-satunya mimpiku ialah bisa bersamamu dalam hitungan waktu yang tak terhingga. Namun, kita akhirnya tahu bahwa mimpi tinggalah mimpi, tak selamanya mampu kita penuhi. Mimpi hanyalah salah satu jalan pelarian bagi orang-orang yang selalu mencoba ingin lepas dari jerat realitas yang tak mampu mereka hadapi. Apakah kita termasuk ke dalamnya? Entah.

***

Tak hanya hal-hal indah yang pernah kita lewati, tapi juga kegetiran. Sesuatu yang menyadarkanku bahwa hidup ternyata tak selalu hanya berisi bahagia dan tawa, tapi kadang juga penuh luka dan airmata. Kau datang di penghujung malam. Ketika itu aku tengah benar-benar mengingatmu. Aku senang kau datang. Namun darah yang mengucur di sekujur tubuhmu membuatku sangat tersentak. Kau masih saja bisa tersenyum kala itu, walau untuk selanjutnya kau langsung terbaring tak sadarkan diri. Sementara aku larut dalam tangis kekhawatiran. Tak ada gunanya bertanya mengapa semua itu terjadi karena aku lebih tertarik untuk mencari cara tentang bagaimana pendarahan di tubuhmu bisa kuhentikan. Ada enam luka yang dalam, dua di bagian dada, tiga di punggung, dan satu di lengan kirimu. Darah pun menderas dan ada beberapa daging yang mengelupas. Kuamati dengan cermat dan aku bisa memastikannya, ini akibat senjata tajam. Aku terpaksa harus mengatasi semua itu sendiri karena kalimat terakhir yang kau ucapkan sebelum tak sadarkan diri adalah sebuah larangan untuk meminta bantuan siapapun. Dengan segenap kemampuan yang kumiliki telah kuhentikan pendarahanmu dan sedikit demi sedikit kujahit lukamu baik-baik. Airmataku mengering ketika segalanya selesai kutuntaskan. Semalaman aku mendampingimu yang tak sadarkan diri. Dan inilah waktu-waktu di mana kau tak lagi banyak bicara, tapi dari diammu itu, aku seperti lebih banyak lagi menangkap kata-kata. Samar dan berpendaran serupa permukaan air telaga. Lelah dan khawatir membuatku terlelap. Entah berapa lama aku tertidur, hingga kusadari kau telah pergi dengan meninggalkan sebuah pesan tertulis berisi dua buah kata: terima kasih. Tak ada penjelasan atau apapun lagi. Kau adalah laki-laki tangguh yang selalu ingin pergi. Entah kemana dan mengapa. Walau lukamu itu belum sepenuhnya terobati. Akan tetapi, tak ada lagi yang mampu kulakukan. Datang dan pergimu selalu menuai pertanyaan-pertanyaan dan setumpuk ketidakpastian.

***

Dan malam juga ialah pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya. Sungguh, saat itu aku sepertinya tak lagi mampu menafsirkan malam yang terus menerus mengisyaratkan detik perpisahan kita. Hingga tiba-tiba kau telah berdiri di hadapanku dengan wajah yang beku. Kabut dingin dan sunyi menguap dari kedua tatap matamu. Bibirmu bergetar seperti menahan suatu kegetiran yang dalam.
“Aku harus pergi”, katamu dengan suara yang parau.
“Kapan kau akan kembali?”
“Entah. Kepergianku untuk waktu yang tak terhingga.”
Kau adalah laki-lakiku yang tak pernah kerasan untuk tinggal. Bahkan untuk alasan tersulit sekalipun. “Aku adalah seorang petualang,” ujarmu selalu. Dan sepertinya aku tahu, ini kali terakhir kau pergi. Kepergian yang tak akan memastikan kata kembali. Angin menderu-deru mengirim ribuan galau ke hatiku. Ada timbunan beban yang menyesakkan rongga-rongga dada. Aku tak mampu bertahan. Tak ada lagi kata yang terucap. Pandangan mata menjadi isyarat percakapan kita selanjutnya. Mungkin satu-satunya jawaban yang pasti hanyalah lautan airmata yang berderai di pipiku. Tapi sejujurnya, aku adalah perempuan yang begitu membenci perpisahan, maka tanpa sepengetahuanmu, telah kuiringkan untukmu sebait mantra-mantra kutukan tentang sajak-sajak yang tak akan lagi mampu kau tuntaskan. Maaf, sesungguhnya aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakitimu dengan mantra kutukan itu. Aku hanya seorang perempuan yang menginginkan laki-lakinya kembali. Dan saat itu, sisi egoisku begitu mengharapkan kau kembali. Oleh karena itu, kembalilah suatu nanti, maka akan kulepas mantra-mantra pengikat itu dengan sepenuh hati.

Semuanya juga kulakukan demi dirimu sendiri, demi mimpi-mimpimu itu. Jika kau masih saja berkehendak untuk bertualang, maka sampai kapan kau bisa mewujudkan mimpimu tentang keinginan menjelma dewa, bermukim di tempat-tempat sunyi, hidup bersamaku dengan bersahaja dan sederhana. Jika aku tak mampu membuatmu untuk kembali dengan mantra kutukanku itu, maka aku bukanlah perempuan yang mempunyai kemampuan lebih untuk mendampingi laki-laki tangguh sepertimu. Sungguh, aku tak ingin hanya menjadi sebagai persinggahanmu sesaat, sebagaimana perempuan-perempuanmu dulu. Aku ingin menjadi satu-satunya perempuan yang mampu mengikatmu untuk bermukim dan tak lagi bertualang. Oleh karena itu, kembalilah padaku, perempuan sejatimu.

Aku hanya mengijinkanmu untuk pergi selama sepuluh purnama. Tidak lebih. Setelah saat itu, mantra kutukkanku akan benar-benar menyiksamu. Tak hanya membuatmu mandul dalam mencipta sajak-sajak, tapi juga membungkam segala kata-kata yang hendak kau ucapkan. Dan pada tengah malam yang larut, mimpi dalam setiap lelapmu hanya akan mengabarkan satu pesan: kembalilah padaku, perempuan sejatimu. Saat itulah, kau akan benar-benar tersadar bahwa keputusanmu untuk meninggalkanku adalah sebuah penyesalan.

Mungkin akan ada berbagai macam mantra yang bisa kau temui di setiap persinggahanmu. Namun jangan pernah berharap akan ada yang sanggup menawarkan mantra kutukkanku. Mantra yang telah kuramu dengan segenap rasa kerinduan, setiap katanya bahkan telah dirasuki molekul-molekul cinta yang terhingga. Dan kau harus tahu, hanya aku yang bisa menawarkannya, dengan satu jalan: kembalilah padaku, perempuan sejatimu. Suatu saat, kau akan menyadari itu. Aku yakin. Seyakin keputusanmu untuk pergi, meninggalkanku, malam itu
Namun, ini adalah purnama yang ketigapuluh. Telah lebih dua puluh purnama dari batas yang telah aku tetapkan. Dan kau tak juga kembali. Apalagi yang harus aku yakini? Aku hanyalah seorang perempuan yang begitu menginginkan laki-laki sejatinya kembali. Apapun yang terjadi, aku tak ingin peduli. Bahkan sekalipun kematian telah menjemputmu, kau harus kembali dan aku akan menerima sukmamu serela hati.

***

Di waktu-waktu malam seperti ini, untuk kesekian kalinya, jiwaku terbunuh oleh sayatan-sayatan ingatan tentangmu. Akankah kau pun merasakan itu? Ketika derai-derai lamunan begitu bergelora, menghentak-hentak sisi batin yang rapuh, memecah keheningan malam, juga mencairkan kerinduan yang terbungkam. Mungkin tak ada lagi yang harus aku ingkari. Sementara, bayang-bayangmu masih banyak tertinggal di sini, di dinding-dinding kamarku yang hampir seluruhnya telah terukir sajak-sajak sunyimu. Harus bagaimana lagi aku menghindarinya jika separuh jiwaku telah tertanam di sana, di setiap bait-baitnya, di setiap kata-katanya, juga di setiap goresan-goresannya. Menatap sajak-sajakmu itu, jiwaku bagai terseret ke pusaran masa silam dengan lorong-lorong labirin yang panjang. Dan telah kutemui diriku teronggok gamang di sana, bersamamu. Menari-nari dalam buaian kemesraan. Mengukir sajak-sajak tentang langit malam yang penuh tebar bintang-bintang. Ah, begitu menyentuh, namun ketika bayang-bayang itu kugapai, segalanya terpecah menghambur seketika. Yang tersisa pada akhirnya hanya kepedihan yang nyata.

Sebab aku ialah perempuan yang senantiasa terpenjara dalam bayang-bayang kehadiranmu. Sebagaimana malam ini, masihkah kau merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan saat ini. Sepertinya tidak lagi, karena persinggahan-persinggahan baru dengan berbagai peristiwa baru, juga perempuan-perempuan baru, sepertinya akan membawamu juga pada ingatan baru, suasana baru, bahkan mungkin perasaan baru. Oleh karena itu, terlarang bagi seorang petualang sepertimu untuk kembali mengenang segala sesuatunya. Kenangan mungkin hanya sebuah kesementaraan yang akan pupus dihantam putaran waktu. Namun, kala malam menjelang, ketika bintang-bintang berserpihan di kegelapan malam, saat kau tengah bergelut dengan sajak-sajak yang tak kunjung kau tuntaskan, pernahkah ada keping-keping kerinduan yang mengambang. Tentang setitik ingatan di masa silam. Ah, mungkin pada akhirnya aku harus memaksakan diri berjalan di jalanku sendiri. Menghadapi setiap likuan hidup yang penuh pertaruhan. Akankah setiap harapan akan hadir sejalan dengan kenyataan. Entahlah. Mungkin akhirnya aku perlu mempersiapkan sebuah mantra untuk mengutuk diriku sendiri.



Bandung, 25112004

Lautan Cinta dalam Puisi (Sebuah Tinjauan Singkat)

Perempuan datang atas nama cinta.
Bunda pergi karena cinta.
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu.
Seperti bulan lelap tidur di hatimu,
yang berdinding kelam dan kedinginan.
Ada apa dengannya?


Teks puisi tersebut diambil dari skenario film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang beberapa waktu sempat populer di kalangan remaja. Pembaca awam pun bisa melihat kebermaknaan cinta dalam puisi tersebut. Hal ini juga akan kita temui dalam banyak puisi lainnya. Mengapa banyak sekali puisi-puisi yang bertema cinta? Kenyataan ini kemudian menggelitik pikiran saya. Ada apa dengan Cinta (dan Puisi)? Hal itu mungkin bisa dijadikan suatu pembahasan yang menarik. Semoga!

Esensi Cinta
Tuhan menjadikan perasaan cinta sebagai kodrat yang harus ditanggung oleh setiap manusia. Bagaimana pun bentuknya, setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Walaupun demikian, cinta adalah hal paling abstrak yang dimiliki manusia. Konon, cinta adalah suatu misteri: cinta hanya bisa dirasakan dan tidak untuk didefinisikan. Oleh sebab itu, berbagai pengertian cinta yang diciptakan orang tak pernah sampai pada hakikat cinta sebenarnya. Lagi pula, cinta yang kita tafsirkan sangat tergantung pada berbagai hal, misalnya tujuan, konteks, serta pemahaman masing-masing. Jangan berpikir sempit dengan menggambarkan cinta hanya sebagai luapan perasaan dan berahi antara dua jenis kelamin yang berbeda (pria-wanita). Tidak! Cinta lebih luas dan dalam dari hanya itu. Lalu, cinta itu apa? Tak perlu kita merepotkan diri merenung berabad-abad dengan pertanyaan filosofis abstrak semacam itu. Seperti meniru kata Are, tokoh dalam film Brownis, “Biarkan cinta mengungkapkan sendiri rasanya!”

Puisi dan Cinta
Karena cinta adalah sebuah keniscayaan yang dimiliki setiap manusia, maka kita tak bisa menghindar darinya. Cinta itu manusiawi. Setiap manusia pernah mengalami cinta, pada apa pun, kapan pun, dan bagaimana pun. Cinta itu sendiri merupakan salah satu dari apa yang dirasakan dalam hati. Sementara menurut KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), hati (Qolbu) adalah pusat organ tubuh manusia. Perasaan, pikiran, dan jiwa manusia juga terkontrol oleh hatinya. Jika hati adalah pusat, maka cinta adalah virus yang dengan cepat merasuk ke setiap ruang. Jadi, jika cinta telah menguasai hatinya, maka cinta pulalah pikiran, perasaan, dan jiwanya. Lalu, apa pula kaitan cinta dan puisi?
Puisi adalah salah satu sarana pengungkapan sesuatu atau apa yang dirasakan, baik itu oleh pikiran, perasaan, maupun oleh jiwa. Puisi menampung segala yang dirasakan untuk kemudian diungkapkan. Apabila pikiran, perasaan, maupun jiwa seseorang telah terbelenggu dengan rasa cinta, maka cinta pulalah puisinya. Karena puisi hanya berperan sebagai wadah atau media apa yang dirasakan dan diungkapkan. Nah, Tak heran jika banyak puisi bernada cinta, karena cinta adalah salah satu hal yang paling banyak dirasakan manusia.

Lautan Cinta
Dari pemikiran di atas, kita bisa memperoleh gambaran mengenai keterkaitan cinta sebagai apa yang dirasakan dan puisi sebagai media pengungkapan rasa cinta itu sendiri. Cinta bisa menjelma apa saja dalam puisi. Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa ada banyak puisi yang bertema cinta. Salah satu puisi menarik yang menggunakan tema cinta sebagai kekuatannya adalah puisi Sapardi Djoko Damono berikut:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada


Dengan puisi ini, Sapardi sepertinya ingin membawa pembaca pada dimensi cinta yang lain. Dengan kata-kata sederhana, namun begitu menghayutkan dan membawa pembaca pada imaji ketenangan riak-riak kecil di tengah-tengah samudra. Lautan luas yang penuh dengan hamparan cinta yang dalam. Senantiasa menggoda kita untuk selalu terlarut di dalamnya. Demikianlah kekuatan cinta dalam puisi bagaikan hamparan lautan yang memenuhi segenap ruang hati. Kini, ijikanlah saya untuk tenggelam di dalamnya.

me

salam takjim

segala kata
yang aku ciptakan
untukmu
adalah segenap bunga
dari semua benih asa
yang pernah kautanam
dalam jiwaku